Mitos Seputar Investasi Saham, Ketahui Faktanya

BAGIKAN:

Banyak orang yang mungkin saja sudah mengetahui apa itu investasi di bursa saham. Namun, kebanyakan tidak mencoba ikut menjadi investor aktif dengan banyaknya mitos seputar investasi saham. Padahal, imbal hasil yang diharapkan dari investasi di bursa saham cenderung lebih besar daripada investasi di aset lain.

Biarpun berinvestasi saham itu menguntungkan dan mudah, masih ada saja mitos yang menghambat banyak orang untuk memulai investasi saham. Apa saja sih mitos tersebut? Mari, ketahui faktanya.

Gedung Bursa Efek Indonesia
Gedung Bursa Efek Indonesia

Risikonya Besar

Mitos pertama ini, sering membayangi kita untuk mau investasi di saham. Padahal kenyataannya, segala tindakan yang kita lakukan pasti ada risikonya tersendiri, termasuk investasi. Yang terpenting kita mengetahui dan mampu meminimalisir resiko itu.

Investasi saham, memang pada prinsipnya high risk, high return. Jadi, alasan investasi saham risikonya besar memang benar. Namun, dibalik risiko yang besar itu ada imbal hasil yang bisa saja nilainya lebih besar dari risikonya. Bukankah tujuan investasi itu harus menghasilkan jumlah keuntungan yang terus bertambah. Kita tidak mungkin mau berinvestasi, jika modal investasi kita masih tetap sama dari waktu ke waktu.

Untuk mengurangi resiko, sebaiknya mulailah dengan modal yang relatif kecil terlebih dahulu. Kemudian perbesar modal seiring bertambahnya pengetahuan mengenai investasi dan strategi manajemen resiko.

Investasi Saham Sama Dengan Judi

Dalam spekulasi, kita hanya menebak nebak saja, mana saham yang bisa menghasilkan keuntungan tanpa dasar perhitungan dan analisis yang jelas.

Investasi itu pada dasarnya menuntut keahlian dan pengalaman. Hal ini dikarenakan kita memerlukan analisa sebagai acuan menentukan besarnya alokasi dana dan tujuan investasi. Untuk menemukan saham yang bagus adalah bagian dari analisa.

Sedangkan, investasi saham menuntut kita menganalisis berbagai macam aspek. Mulai dari prospek perusahaan kedepan, analisis laporan keuangan, analisis pengelolaan yang dilakukan manajemen, dan menganalisa bagaimana pengaruh kondisi perekonomian nasional, regional dan global terhadap kinerja perusahaan kedepannya. Jadi investasi butuh keahlian dan kemahiran bukan?

MItos dan Fakta Seputar Investasi Saham - Bukan Judi

Investasi Saham vs Spekulasi

Karena investasi itu menganalisis data semua aspek, maka investasi akan selalu masuk akal. Ada banyak alasan ilmiah yang bisa kita sampaikan dari alasan kita memilih saham A, B atau C sebagai investasi kita. Dan tentunya, saham yang kita pilih mengandung kemungkinan gain diatas 50%. Inilah yang bisa menjadi pembeda investasi dan spekulasi.

Maksudnya, kalau spekulasi itu ibarat melempar koin, tingkat keuntungan dan kerugiannya 50:50. Sedangkan investasi itu dari hasil analisis yang mendalam, sehingga kemungkinan berhasil umumnya diatas 50%.

Hanya saja, meskipun kita yakin jika tingkat keberhasilan lebih dari 50%, tetapi hasil akhir dari investasi saham tidak dapat diketahui hasilnya di awal perhitungan.

Mengapa Investasi Saham Sering Disebut Judi?

Berbeda dengan tabungan ataupun deposito di bank. Investasi saham tidak bisa dihitung berapa hasil akhir keuntungan yang bisa kita dapatkan nanti. Karena keuntungan pada hasil akhir nanti bergantung dari banyak faktor yang sifatnya labil, bukan stabil.

Karenanya, untuk mendapatkan keuntungan yang berarti, kamu harus mempu bersabar dan memberikan waktu untuk investasimu untuk berkembang.

Namun, kebanyakan investor, tidak mampu menangani volatilitas pasar jangka pendek. Sehingga begitu harga saham turun, mereka menjadi panik dan melepas sahamnya sehingga mengalami kerugian. Hal ini yang sering diteriakan ‘investor’ bahwa saham adalah judi, sehingga mereka mendapat alasan akan loss yang dialaminya.

Investasi Saham Butuh Modal Besar

Bagi sebagian orang mungkin saja masih berpikiran jika kalau mau investasi saham diperlukan modal yang cukup besar. Padahal, per Januari 2014 Bursa Efek Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan berupa pengurangan jumlah saham per lot saham dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar saham per lotnya.

Mitos dan Fakta Seputar Investasi Saham - Modal Besar

Tahun 2013 dan tahun sebelum-sebelumnya, untuk membeli saham kita perlu minimal 1 lot yang terdiri dari 500 lembar saham. Sedangkan, sejak 6 Januari 2014, kita bisa membeli saham hanya sebanyak 100 lembar saja, karena 1 lot kini sama dengan 100 lembar.

Sehingga, jika kita ingin memulai investasi saham dengan membeli saham PT Telkom Indonesia misanya, kita cuma perlu mengeluarkan uang Rp421.000,- saja, dan kita sudah tercatat sebagai investor.

Kok bisa hanya 421 ribu? Harga saham PT Telkom Indonesia saat ini di bursa dihargai Rp4.210,- per lembarnya. Sedangkan pembelian minimal 1 lot atau 100 lembar. Tinggal dikalikan saja antara harga dengan jumlah lembar yang kita beli atau 4.210 dikali 100. Hasilnya 421 ribu bukan?

Jadi, masih berpikir investasi saham membutuhkan modal yang besar?

Perusahaan yang populer memiliki saham yang bagus

Perusahaan yang sedang populer, sering dijadikan incaran kebanyakan investor saham dalam memulai investasinya. Sayangnya hal ini keliru dan sangat tidak disarankan.

Sudah umum anggapan bahwa perusahaan yang ‘terkenal’ dan sedang tren pasti sahamnya bagus, dan akan terus naik. Padahal, aturan ini tidak selalu berlaku.

Nyatanya, tidak sedikit perusahaan populer yang memiliki kinerja keuangan yang buruk. Selain itu, tak jarang perusahan ini menderita valuasi yang terlalu tinggi karena tren sesaat, hanya mengalami kenaikan harga singkat karena pemberitaan.

Memilih saham yang baik bergantung pada beberapa faktor. Mulai dari performa dan kondisi keuangan perusahaan hingga situasi politik di negara tempat perusahaan tersebut beroperasi.

Harga Saham Bukalapak

Ambil contoh saham Bukalapak (BUKA) yang hingga kini harganya terus anjlok (-67,17% sejak melantai di bursa) dan acap kali terkena ARB (Auto Reject Bawah).

Pada 6 Agustus Bukalapak masuk bursa dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) yang diikuti 96.000 investor. Harga saham BUKA dengan cepat menguat 210 poin atau 24,71 persen ke level Rp 1.060 per saham dari harga pembukaan di level Rp850,- per saham.

Harga Saham Bukalapak
Grafik harga saham Bukalapak

Selama 1-2 pekan IPO Bukalapak ini menjadi tren dimana-mana, berkat euforia pencatatan saham perdana perusahaan tersebut sebagai e-commerce unicorn pertama di Indonesia. Meskipun harga sahamnya perlahan mulai menurun dari puncaknya, namun BUKA masih ramai peminat.

Sayangnya investor tidak melihat kinerja dan laporan keuangan Bukalapak. Meskipun kondisi keuangan Bukalapak membaik, kerugian bersihnya masih sebesar Rp 1,1 triliun. Belum lagi persaingan ketat di dunia e-commerce, yang mana Bukalapak masih kalah pamor dari pesaingnya.

Kesimpulan

Ada beberapa mitos seputar investasi saham dan fakta sebenarnya. Mulai dari risiko yang besar, namun juga memiliki imbal hasil yang besar dan pada dasarnya semua jenis investasi memiliki risiko masing-masing.

Investasi saham juga bukan merupakan judi. Pada dasarnya kita perlu melakukan analisa dalam memilih saham, menentukan waktu yang tepat untuk membeli saham, kapan harus menjual, dan sebagainya. Sedangkan judi hanya asal tebak tanpa perlu analisa dan memang tidak ada yang bisa dianalisa.

Untuk memulai investasi saham juga tidak memerlukan modal yang besar, seperti mitosnya. Nyatanya sejak 6 Januari 2014 minimal pembelian saham per lot hanya 100 lembar saja. Dan kita bisa memulai investasi saham dengan dana ratusan ribu saja.

Selalu analisa dan baca laporan keuangan dan performa perusahaan. Jangan asal pilih karena perusahaan tersebut populer. Sering kali orang hanya terjebak hype sesaat dan asal membeli saham hanya karena perusahaan tersebut sedang ‘terkenal’. Terkadang di balik populernya perusahaan tersebut, ada kerugian dan performa keuangan yang kurang baik.

Tips Memulai Investasi Saham

Ada banyak tips sukses investasi saham, misalnya dalam berinvestasi saham sebaiknya menggunakan uang dingin (uang ‘nganggur’), bukan uang panas yang keluar masuk dompet dengan cepat.

Karena, investasi di saham fluktuasinya sangat cepat. Sering terjadi saat baru membeli saham, tiba-tiba saham yang dibeli harganya turun dan terus mengalami penurunan. Dengan harga yang lebih rendah dari harga waktu kita beli, kita tidak mungkin menjualnya. Kalau terpaksa menjualnya, maka kita akan mengalami kerugian.

Sedangkan, tujuan investasi itu untuk mendapatkan keuntungan, bukan rugi.

Karenanya, kalau harga saham sedang turun, sebaiknya tahan dan tidak menjualnya dulu selama analisa kita mengatakan saham tersebut masih bagus. Tidak perlu khawatir kalau nantinya dapur tidak bisa mengepul, karena uang yang diinvestasikan adalah uang dingin, bukan uang yang biasa dipakai untuk keperluan sehari-hari.

Lantas, bagaimana jika seandainya uang yang dipakai investasi saham adalah uang yang seharusnya dipakai buat belanja kebutuhan dapur? Kalau itu, bukan investasi namanya. Karena, seandainya saja harga saham yang kita beli terus turun, maka mau tidak mau kita harus menjual saham tersebut daripada anak dan istri kelaparan.

Kerugian akibat harga yang turun tersebut adalah risiko yang harus ditanggung. Karenanya, masih banyak terpikir oleh kebanyakan orang alasan untuk tidak berinvestasi di saham. Masih wajar jika orang-orang yang belum paham memiliki anggapan yang demikian buruk terhadap investasi saham.

Tetapi tentunya dengan mendapatkan lebih banyak pengetahuan, pemahaman itu akan berubah.

Selamat berinvestasi.

BAGIKAN:

Tinggalkan komentar