Ini alasan jangan membeli emas saat resesi

BAGIKAN:

Emas sudah lama terkenal sebagai safe haven, atau aset investasi beresiko rendah. Tapi saat resesi sebaiknya hindari niat untuk memborong emas sebagai investasi, Mengapa?

Risiko terjadinya resesi ekonomi, akibat situasi ekonomi global yang kian tidak menentu semakin mencancam negara-negara dunia, termasuk Indonesia. Penyebab utama perlambatan ekonomi dunia ini adalah ketegangan perang dagang yang sudah berlangsung selama dua tahun antara Amerika Serikat dan China yang belum berakhir. Tensi AS – China semakin tinggi pada awal September 2019 lalu, saat AS resmi memberlakukan kenaikan tarif terhadap barang impor asal China sebesar 15 persen.

Kecemasan global akan resesi membayangi beberapa negara dunia, tidak terkecuali Indonesia. Mengingat krisis yang terus memburuk dan anjloknya nilai lira Turki dan peso Argentina, serta sejumlah negara lain yang mulai mengumumkan resesi. Bahkan Singapura pun telah mengakui terjadi perlambatan pada pertumbuhan ekonominya.

Ini alasan jangan membeli emas saat resesi
Ilustrasi Emas

Yang menarik, harga emas mencatat kenaikan sejak kata resesi heboh digaungkan. Tercatat, harga saham emiten mineral PT Aneka Tambang (ANTM) naik hingga melebihi 50% dari 279, lalu ANTM kembali melemah setelah Badan Pusat Statistik mengumumkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh positif sebesar 5,5%.

Nilai emas dan ekonomi global

Umumnya nilai emas melangkah searah dengan laju inflasi dalam jangka waktu panjang. Sehingga para investor sepakat akan posisi emas sebagai safe haven. Kita dapat melihat hubungan erat antara emas dan ekonomi global dalam grafik harian New York Stock Index atau NYSE (garis biru) dan emas (garis jingga):

Ini alasan jangan membeli emas saat resesi

Pada grafik Pada grafik di bawah ini, kita dapat melihat bahwa Pergerakan harga emas berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan NYSE saat ini. Situasi ekonomi secara keseluruhan baik (tercermin dari kenaikan harga saham yang tercermin dari nilai pasar yang positif). Saat terjadi penguatan pada NYSE, maka nilai emas justru akan cenderung melemah. Dan begitu pula sebaliknya, saat NYSE menunjukan pelemahan maka emas biasanya semakin menguat.

Hal yang serupa juga terjadi di Indonesia pada IHSG, berikut adalah grafik perbandingan IHSG (garis biru) dengan XAU/USD (garis jingga) :

Ini alasan jangan membeli emas saat resesi
Grafik Perbandingan IHSG dan Emas (XAUUSD)

Saat emas menggapai level US$ 2000 per ons troi tahun 2011, mulai muncul pengakuan emas sebagai Safe Haven oleh para investor. Anggapan itu belum muncul pada tahun-tahun sebelumnya.

Sejarah emas sebagai safe haven

Seperti yang kita ketahui, pada 1998, terjadi pelemahan ekonomi secara umum. Pelemahan ini tidak berpengaruh pada sektor teknologi yang sedang booming, bahkan sektor ini turut mengerek kenaikan bursa secara keseluruhan. Seperti pada penampakan berikut, berupa grafik mingguan Nasdaq (garis biru) dan emas (garis jingga):

Ini alasan jangan membeli emas saat resesi
Grafik Perbandingan Nasdaq dan Emas (XAUUSD) tahun 1998

Dari grafik Nasdaq dan emas di atas, kita dapat menarik kesimpulan yaitu indeks bursa bergerak fluktuatif sejak tahun 1998 hingga tahun 2010, kecuali sektor teknologi dan safe haven, emas.

Sepanjang periode 1998 – 2010 tidak ada pergolakan harga emas yang cukup berarti. Meskipun pada tahun 2000 bursa saham rontok hingga 80% dan bubble saham teknologi pecah. Harga emas tidak banyak berfluktuasi dan stabil di angka $270an per ons troi.

Mengapa demikian? Ternyata saat runtuhnya gelembung teknologi, The Fed saat itu, melakukan tindakan manipulasi pasar dengan menyediakan likuiditas dalam bentuk jalur kredit.

Fasilitas kemudahan kredit itu termasuk mortgage atau kredit perumahan yang termasuk bagian American Dream. Generasi baby boomers, sangat menyambut baik hal ini, yang kemudian berujung dengan terbentuknya gelembung utang perumahan. Situasi ini makin parah dengan penerbitan surat berharga yang menjadikan kredit rumah sebagai kebutuhan pokok.

Pada tahun 2006-2007, terungkap adanya pencairan kredit perumahan secara bebas kepada siapa saja yang menginginkannya. Akibatnya, gelembung real estate pecah pada tahun 2008, menyebabkan banyak tagihan hipotek tidak terbayar, dan mempengaruhi beragam sektor lain.

Keyakinan terhadap emas sebagai safe haven mencapai puncaknya pada tahun 2011 saat kepercayaan di sektor real estate melemah. Saat itu, Amerika Serikat berhutang sekitar 1,3 triliun dolar, yang sebagian jatuh tempo pada 2 Agustus 2011 dan 2012. Saat itu, ekonomi tampak membeku dan harga emas naik di pasar.

Berikut ini sekali lagi grafik harian indeks NYSE (garis biru) dan kuning (garis jingga) pada 2011:

Ini alasan jangan membeli emas saat resesi
Grafik Perbandingan Nasdaq dan Emas (XAUUSD) tahun 2011

Grafik harian indeks NYSE (garis biru) dan emas (XAU/USD) (garis jingga) Dapat kita lihat bahwa pasar saham telah bergejolak sejak 2011 dan bereaksi dengan harga emas menunjukkan sebaliknya (lihat area yang dilingkari). Harga emas cenderung turun saat pasar saham mulai menguat dan begitu pun sebaliknya.

Kesimpulan: Prospek Emas Saat Resesi

Fungsi emas sebagai aset safe haven atau sebagai penyimpan nilai moneter nampak semakin nyata, dimulai dari tahun 2011 lalu. Jika resesi terjadi, maka harga emas biasanya naik. Jika membeli emas disaat harga naik, maka sama saja dengan membeli emas di harga tertingginya (level resistance).

Bayangkan saja jika kita membeli emas di harga $1,800-$2,000 per ons troi atau saat harga emas sedang berada pada puncaknya, untuk tujuan mengamankan nilai tunai Anda. Namun ternyata harga emas kemudian ambruk karena perekonomian secara keseluruhan berangsur membaik. Kemudian akhirnya kita terpaksa menjual emas pada harga murah di bawah harga pembelian untuk mendapatkan modal untuk berinvestasi pada instrumen investasi lain seperti saham dan sukuk ritel.

Semoga saja informasi ini dapat dijadikan pedoman bagi para pembaca. Beli disaat harga turun, dan jual disaat harga naik, bukan sebaliknya.

BAGIKAN:

Tinggalkan komentar